Tta
BELAS KASIH SESAAT
Suatu malam, di
suatu rumah kayu yang terletak di sudut desa. Adalah sepasang suami istri
dengan satu anaknya yang berumur sepuluh tahun. Si anak ini sudah tidur sendiri
di kamar belakang, sedangkan ayah ibunya tidur di kamar depan. Pada jam satu
malam terdengarlah teriakan anak tersebut:
“Ayah! Ayah! Cepatlah kemari! Tolong aku!” teriak-teriak
anaknya memanggil ayahnya.
Dengan tergopoh-gopoh ayahnya bangun dan mendatangi
kamar belakang.
“Ada gerangan apa anakku hingga engkau
berteriak-teriak sedemikian rupa?” dengan cemas ayahnya bertanya.
“Lihat ayah ada ular dipojok itu!” sambil berdiri
ketakutan anaknya menunjukkan tempat ular itu.
Tidak rela anaknya satu-satunya dalam bahaya,
diambillah tongkat besi di kamar tengah, dan segeralah ayahnya menghajar ular
itu sampai mati.
“Sudah tenanglah anakku, ularnya sudah mati, sekarang
kamu aman,” sambil dipeluknya anak itu yang masih ketakutan.
Tetapi
ayahnya melihat di pojokan di bawah lemari seperti ada ekor yang
bergerak-gerak. Dengan masih membawa tongkat besi digesernya sedikit lemari
itu. Tampaklah sedikit badan yang dipastikannya sebagai tikus.
“Masih
adakah ular ayah?” istrinya yang dari tadi berdiri di pintu kamar bertanya.
“Bukan
ular, tapi tikus, perlu kuhabisi juga.”
“Jangan
ayah!” sahur anaknya, “Sepertinya tikuslah yang telah menolong aku, karena tadi
sepertinya ada yang bergerak-gerak diantara kakiku sehingga membangunkanku.”
“Benarkah
begitu?” ayahnya bergumam, berhenti sejenak langkahnya.
“Baiknya
jangan dibunuh ayah!” sergah istrinya.
“Hemm….,
baiklah aku biarkan tikus ini pergi sekarang, tapi besok jika dia ada di sini
lagi, pastilah mati. Dan tentunya jika datang bersama ular lagi, ularnya ikut
mati.” Sambil memandang istri dan anaknya bergantian.
Oleh si
Ayah dibukanya pintu depan dan diusirnya tikus kecil itu keluar, sedangkan ular
itu tetaplah mati seperti tadi.
FTG&ML
sby, 150616
*Diambil dari buku TIKUS-TIKUS (kumpulan mini cerpen)
No comments:
Post a Comment